Alumni UNDIP Jaya : Besok, Kamis (30/11/2017), Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Yos Johan Utama kembali mengukuhkan dua guru besar (profesor) di Lingkungan Kampus Undip Kota Semarang.

Menurut Yos Johan, Keduanya itu adalah Prof Dr Andri Cahyo Kumoro dan Prof Dr Hadiyanto, dimana mereka berasal dari Fakultas Teknik Undip.

Dari pengukuhan itu, menambah deretan guru besar di kampus yang berada di Jalan Prof H Soedarto SH Kecamatan Tembalang Kota Semarang itu.

“Jika ditambah dua itu, total guru besar yang kini kami miliki di Undip adalah sekitar 113 guru besar di berbagai bidang keilmuan. Pada November 2017 ini saja, kami sudah kukuhkan 8 guru besar baru. Rencananya, Desember 2017 juga ada beberapa guru besar yang bakal kami kukuhkan lagi,” ucap Yos Johan kepada Tribunjateng.com, Rabu (29/11/2017).

Menurutnya, guru besar adalah jabatan akademik tertinggi di dunia pendidikan. Namun, mahkota yang disandangnya dari jabatan itu seyogyanya adalah amanah dan tantangan bagaimana kemampuan para guru besar untuk terus berkarya demi kemaslahatan umat manusia.

“Seorang guru besar tidak sekadar capaian keilmuan yang selama ini dikejar, tetapi pula menjadi bagian dari kematangan jiwa serta integritas baik yang bersangkutan sebagai pendidik maupun sebagai manusia yang bermanfaat bagi orang banyak,” ungkapnya.

Tak hanya pula, lanjutnya, menjadi akademisi bergelar akademik tertinggi. Seyogyanya dapat digunakan untuk memiliki serta memupuk jiwa kepedulian kepada khalayak luas secara umum, dan lingkungan kampus ini pada khususnya.

“Besok, Prof Dr Andri Cahyo Kumoro bakal memberikan paparan sebagai materi pengukuhannya terkait peran teknik kimia dalam perancangan produk dan proses pengolahan pangan dari sumberdaya alam hayati Indonesia,” jelasnya.

Sementara, tambahnya, Prof Dr Hadiyanto memaparkan materi penelitiannya tentang biorefinery mikroalga sebagai solusi untuk diversifikasi bionergi dan pangan alternatif di Indonesia. Diyakini oleh Hadiyanto, melalui sistem terintegrasi itu, ada cukup banyak keuntungan yang diperoleh.

“Di antaranya pengurangan biaya produksi mikroalga, terolahnya limbah cair industri, berkurangnya sumber emisi gas rumah kaca, serta dihasilkannya biomasa mikroalga yang selanjutnya dapat diekstrak menjadi produk bermanfaat baik untuk energi maupun pangan,” papar Hadiyanto. (*)

 

sumber Tribunnews