Tidak banyak orang yang berani untuk memutuskan memulai kembali kariernya dari nol dengan menjadi “petarung” setelah merasa nyaman dengan posisinya di kantor. Pasalnya dengan menjadi pegawai maka penghasilan tetap selalu mengalir setiap bulan. Tapi tidak dengan alumni yang satu ini.

Setelah berkarier cukup lama menjadi pegawai di sektor konstruksi, dia memutuskan untuk melepas segala kenyamanan sebagai pegawai dengan menjadi entreprenur. Dialah Y. Joko Setiyanto yang kini sukses memiliki perusahaan manajemen konstruksi papan atas yaitu PT Trimatra Jaya Persada.

“Saya sudah pernah menjadi pegawai di PP, Total Bangun Persada, dan PT Lippo Development. Tapi kalau menjadi pegawai terus, saya tidak bisa berkontribusi lebih besar untuk negeri ini,” katanya.

Untuk itulah, jebolan alumni Teknik Sipil Undip 1981, mengawali pengembaraan kariernya dengan mendirikan Totalindo di tahun 1995, sebuah perusahaan konstruksi baru yang digawangi oleh awak-awak dari Total Bangun Persada yang berjumlah 4 orang dan 1 orang dari Lippo Development. Mereka ini lantas meminjam modal usaha sebesar Rp 1 miliar untuk operasional dari seorang koleganya.

Memang, untuk memulai sesuatu itu, Joko mengakui harus bisa mengalahkan diri sendiri dulu. Jangan pernah pikirkan anggapan negatif yang selalu muncul di saat mulai berusaha sendiri. Sebab bila seseorang itu sudah menguasai bidangnya dengan baik maka tidak perlu ada keraguan dari dalam diri sendiri.

“Modal saya itu hanyalah market dan klien-klien besar yang sudah saya pahami dengan baik sehingga pada saat mendirikan perusahaan itu saya sudah punya beberapa klien besar dengan proyek-proyek besar. Jadi tidak usah pusing memikirkan modal usaha. Itu bisa dicari dengan meminjam teman bila tidak punya modal usaha cukup kuat,” katanya.

Analisis Joko itu pun terbukti. Secara perlahan, beberapa proyek dari para klien besarnnya itu berhasil didapatkan. Sebut saja beberapa proyek seperti Mall Taman Anggrek, dan Hotel Mulia Senayan, merupakan proyek yang pernah digarap. Tentunya masih banyak lagi proyek lain yang digarap di bawah bendera Totalindo.

“Sudah dari awal saya meyakini ini bisa dilakukan dan berhasil. Coba kalau cuma jadi pegawai. Susah untuk memperbaiki kehidupan karena gajinya cuma segitu-segitu saja,” tandasnya.

Di bawah bendera Totalindo inilah, Joko lantas membajak karyawan-karyawan potensial dari Lippo, PP dan Total Bangun Persada untuk bergabung. Hingga akhirnya manajemen di Totalindo menjadi kuat dan memberikan warna baru di sektor konstruksi.

Setelah cukup berhasil dengan mendirikan Totalindo, di tahun 1999 Joko kembali memutuskan untuk menjadi petarung. Padahal saat itu, kehidupannya sudah jauh lebih baik ketimbang masih menjadi pegawai. Alasan Joko keluar dari Totalindo, adalah karena di perusahaan yang didirikannya itu sudah mulai timbul perselisihan dan tidak kondusif lagi.

Maka di tahun 2000, dia kembali memutuskan untuk mendirikan perusahaan baru kembali bersama rekannya yaitu PT Trimatra Jaya Persada. Perusahaan itu bergerak di bidang manajemen konstruksi untuk gedung. “Beberapa proyek yang saya tangani seperti Gading Mediteranian Residences, Mediterania Garden Residences, Senayan City dan masih banyak proyek proyek lainnya.”

Kehidupannya terus semakin membaik. Djoko tidak henti-hentinya melakukan terobosan dengan terus mencari proyek-proyek prestisius dari klien-klien besarnya tersebut. Hingga kini entah sudah berapa proyek yang sudah ditanganinya itu.

Di tahun 2003, lagi lagi Djoko menantang dirinya sendiri, untuk berkontribusi lebih besar lagi kepada negeri ini. Caranya adalah dengan masuk ke perusahaan daerah milik Pemda DKI. Dia pun mulai mengikuti tes masuk ke PD Pasar Jaya secara professional.

Akhirnya dia pun berhasil masuk ke dalam hingga masuk ke dalam jajaran direksi dengan posisi Direktur Operasional selama dua periode, dan sekarang menginjak tahun ke delapan. Sejak itulah dia semakin memahami bagaimana kondisi perusahaan di dalam, yang tentunya memerlukan banyak pembenahan.

“Untuk itu kami merasa perlu menata kembali perusahaan ini agar memiliki pondasi yang benar dan tidak keluar dari core bisnis intinya sebagai perusahaan properti,“ katanya.

Gebrakan baru pun dilakukan. Di masanya itu pulalah, PD Pasar Jaya merampingkan para karyawannya yang berjumlah 4.000 orang menjadi 1.800 orang tanpa menimbulkan gejolak. Mereka berharap dengan perampingan ini terjadi efisiensi perusahaan dalam hal jumlah sumber daya manusia.

Tidak berhenti sampai disitu, jajaran direksi juga kembali menata dan melakukan peremajaan pasar pasar tradisional supaya kembali menjadi property yang bersih, nyaman dan aman seperti yang sudah dilakukan di Pasar Tanah Abang, Pasar Induk Kramajati, Pasar Blok M Square dan pasar-pasar lainnya.

Usaha pembenahan itu membuahkan hasil. Di tahun 2005, PD Pasar Jaya berhasil mendapat penghargaan dari BUMD Award dengan menjadi salah satu perusahaan terbaik di Indonesia. Dan dalam waktu dua tahun pulalah kondisi keuangan perusahaan terus membaik.

“Kita harus bisa bergerak lebih cepat daripada kompetitor. Bila tidak mampu bergerak lebih cepat maka bisa tertinggal lebih jauh,” katanya.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 2006, Joko mendirikan ASPARINDO (Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia) sebuah wadah komunikasi para pengelola pasar tradisional di seluruh indonesia. Dan saat ini ASPARINDO menjadi mitra strategis pemerintah dalam pemberdayaan pasar tradisional khususnya di Kementerian Perdagangan RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Dalam Negeri.

Dan sebagai sumbangsih kepada tanah kelahirannya di Ambarawa, Joko mendirikan Yayasan ”Ambarawa Heritage” yang merupakan wadah dalam pelestarian alam, cagar budaya, dan menggali potensi yang luar biasa untuk industri pariwisata ke depan. Dan saat ini sudah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Lantas apa yang menjadi prinsipnya dalam bekerja itu? Yang jelas dalam bekerja, dia lebih memilih menjadi petarung. Jangan mengambil sikap sebagai safety player yang tidak berani membuat terobosan di dalam hidup. Karena bila memilih menjadi safety player maka tidak mampu berkompetisi.

“Saya selalu mempersiapkan hidup saya tidak menjadi safety player, karena kompetisi sangat keras sehingga menuntut kita untuk menjadi petarung guna menjadi terbaik di bidangnya,” katanya.

Jadi bila diminta untuk menakar sebesar apa kemampuan Joko untuk menghadapi kehidupan itu? Dia bilang, bila seseorang itu bisa menyanggupi 100 % maka Joko akan memberikan 300 %. Untuk itu, sebagai petarung, tidak segan-segan joko bekerja hingga subuh ketimbang orang lain yang hanya bekerja di waktu normal. (asm)

 

sumber : ayopreneur