Alumni UNDIP Jaya : Sejak akhir 2014, Arif Hartadi (21) mulai terjun ke pasar saham. Tak butuh waktu lama, ia kini bisa menghasilkan uang jutaan rupiah hanya dalam waktu beberapa hari. Siapa sangka, statusnya masih mahasiswa Universitas Diponegoro.

Dari hasil main saham, Arif bisa membiayai hobinya traveling dan membayar uang kos bulanan.

Pria warga Jalan Bukit Bunga Raya Blok D/711 Perum Diponegoro itu mengungkapkan, alasannya dirinya bergabung ke pasar saham karena awalnya ingin mengisi waktu luang. Ayahnya yang merupakan Dosen Ekonomi Untag Surabaya lantas menyarankan agar membuka akun di salah satu sekuritas.

“Saat itu kuliah saya cuma tiga hari lebih dikit, banyak waktu nganggurnya gitu. Ayah saya ngasih saran coba buka akun saham di salah satu sekuritas,” kata Arif, Selasa (28/11).

Sekuritas pertama yang ia gunakan adalah sucorinvest. Modal saat itu cuma masukkan Rp 300 ribu, atau melebihi minimal deposit khusus mahasiswa sebesar Rp 100 ribu.

Pada awalnya Arif sama sekali tidak paham cara bermain di pasar modal/saham. Pelan-pelan, ia belajar dibantu mentor dari Kantor Pojok Bursa kampusnya dulu. Proses bimbingan tidak lewat membaca buku namun langsung praktik setelah akunnya jadi.

“Awalnya 0% nggak ngerti sama sekali cara mainnya. Cuman tahunya definisi pasar modal saja. Setelah lulus SMA tahun 2014, saya kuliah di Untag Surabaya selama satu tahun, jadi pojok bursa sucor di Untag Surabaya itu awal mulai kenal dengan saham,” katanya.

Ketika pindah kuliah ke Universitas Diponegoro, mahasiswa semester V Fakultas Ekonomika dan Bisnis tersebut makin penasaran dengan pasar saham. Bahkan untuk menambah pengetahuannya, ia bergabung bersama Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip.

Di bulan-bulan awal tampil di lantai bursa, Arif langsung main di beberapa saham jangka pendek antara lain BRAU, ENGR, KRAS, BWPT. Selain itu ia juga menanamkan modal di saham jangka panjang, yaitu di kode bursa ADHI, GIAA, PGAS, PPRO, ROTI, TLKM, ACES, PWON.

Untuk keuntungan awal, Arif mengaku masih sekitar Rp 30-40 ribu saja karena modalnya yang tak seberapa, hanya Rp 300 ribu. Namun dengan uang segitu ia masih bisa menanam di beberapa perusahaan dengan range harga per lembarnya Rp 50 sampai Rp 2.000.

“Awalnya nggak ngerti ilmunya, jadi asal beli begitu, saya belinya per emiten 1 lot saja. Beli, jual gitu sih pas saat itu,” imbuh pria asal Sidoarjo, Jawa Timur tersebut.

Arif menambahkan, banyak suka duka tampil di pasar saham. Pengalaman tidak enaknya mulai dari koneksi internet yang lelet dan tidak stabil, bahkan membuat aplikasinya menjadi down. Kondisi tersebut sedikit banyak berpengaruh untuk memutuskan jual atau beli.

“Kalo yang ini karena faktor internal saya sendiri, internet di rumah lelet. Mungkin karena jaringan juga, pas saat itu kan gencar-gencarnya penyedia layanan internet pada migrasi menggunakan fiber optik,” imbuhnya.

Masalah lainnya, kurangnya pengetahuan dasar terkait pasar modal, khususnya masalah fundamental dengan teknikal. Ia mencontohkan, pada satu emiten. Secara teknikal, emiten tersebut tidak kelihatan kalau mau naik malah cenderung turun harganya. Tapi ada isu atau dikatakan fundamentalnya bagus, sehingga emiten itu bisa naik harganya dan kadang sebaliknya juga bisa.

“Pas awal-awal itu saya cuma mengandalkan fundamental saja. Ya isu-isu gitu saya dapatnya dari grup dan juga berita-berita. Sedangkan teknikalnya masih abal-abal dan ngak ngerti,” imbuhnya.

Oleh sebab itu ia menyarankan, kepada orang yang baru terjun sebaiknya mengikuti sekolah pasar modal level 1 yang diadakan oleh bursa efek atau oleh kelompok-kelompok studi pasar modal di universitas. Setelah memiliki dasar pasar modal barulah praktik dengan akun saham yang telah dibuka.

Pada sekolah pasar modal itu calon investor dijelaskan bagaimana cara membaca chart/grafik untuk melakukan analisis teknikal. Ketika sudah mengerti boleh dilanjut dengan sekolah pasar modal level 2 untuk belajar menganalisa.

“Kalau aku sekarang 60:40 antara fundamental dan teknikal,” imbuhnya.

Menurutnya, potensi pasar saham Indonesia saat ini dan ke depan sangat bagus karena ditunjang dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang secara tidak langsung mengarah ke pasar modal.

Diakuinya, tingkat risiko bermain saham masih cenderung agak tinggi. Namun dengan mengasah kemampuan hal tersebut bisa diminimalisir. Apalagi melihat income yang didapat juga lumayan tinggi, jadi sebanding dengan tingkat risikonya. Bilamana agak ragu atau takut maka disarankan bisa ke reksadana atau obligasi.

Pengalamannya bermain pasar saham, pernah suatu hari iseng-iseng ingin bermain saham. Seperti biasa pertamanya tentu melihat monitor yang isinya pergerakan harga saham.

Di sana ia melihat ada berita angin segar bagi sektor baja. Ia kemudian disarankan untuk watch emiten KRAS. Ketika dipantau dan benar ada kenaikan sedikit langsung Arif masuk ke emiten tersebut.

“Mungkin masih naik 1-2% aja. seluruh deposit saya masukkan sebesar Rp 3 juta. Dan benar, naiknya pada hari itu lebih dari 20%. Namun hari itu saya masih belum jual saham emiten tersebut masih berharap esok hari masih naik. Saat hari kedua tebakan saya benar, masih lanjut trennya. Naik lagi lebih dari 10%an dan saya langsung jual. Nah di situ rasa syok pertama kali dapet untung dengan income yang tinggi bagi saya,” imbuhnya.

 

Sumber : Tribunnews