Alumni UNDIP Jaya : Andhika Al Afghani (23), tak pernah membayangkan jika kaki kirinya bakal diamputasi karena kanker tulang. Kini ia pun masih harus berobat karena ditemukan benjolan di paru-parunya.

Setelah lulus dari SMAN 1 Tuntang, Kabupaten Semarang, Andhika kemudian merantau di Samarinda. Di sana, ia ikut saudaranya kemudian kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur Untag 1945.

“Semenjak pertengahan semester I, saya dikasih tahu kakak kelas kalau ada lowongan di kantor konsultan perencanaan perairan,” kata Andhika saat ditemui di rumahnya Dusun Gading RT 01/RW 02, Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Rabu (13/12/2017).

Andhika bercerita saat itu dia sibuk kuliah dan bekerja. Dia membagi waktu, siang bekerja, kemudian sore kuliah dan dilanjutkan malam untuk mengerjakan tugas bersama temannya. Kemudian, saat libur kuliah dan kerja, Andhika pun latihan basket, taekwondo bahkan futsal. Andhika sejak kecil ditinggal pergi ayahnya, sedangkan ibunya, Siti Malaslakah (47), menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).

“Awalnya sekitar Oktober 2015, kaki saya nyeri, saya kira karena kecapekan beraktivitas. Ada yang mengira asam urat, terus kalau dikasih obat nyerinya hilang, tapi setelah itu terasa lagi,” katanya.

Tak selang berapa lama, muncul benjolan di kaki kirinya yang nyeri tersebut. Ia pun kemudian disarankan untuk pijat agar nanti benjolan tersebut bisa kempes.

“Sebulan kemudian benjolan di kaki semakin besar. Kemudian, saya rongent disebutkan bahwa tumor ganas untuk segera dioperasi. Kalau operasi radikal tentu bisa diamputasi,” ujar Andika.

Semenjak itu, Andhika pun kembali di rumahnya dan dirawat Budhenya, Nur Aliyah (49). Ia pun disarankan dokter untuk tidak banyak menggerakkan kakinya, kemudian memakai alat bantu krek.

“Sekitar Januari 2016 dilakukan operasi kecil di RSUD Ambarawa dan diketahui jenis tumor ganas. Dari RSUD Ambarawa, kemudian di RS Salatiga dan disarankan untuk dibawa menuju RSO Dr Soeharso Solo,” tuturnya.

Sebelum menjalani operasi pun, Andhika harus menjalani kemoterapi sebanyak 3 kali dan sesudah operasi juga menjalani kemoterapi. Kemudian pada Maret 2016, kaki kirinya diamputasi 10 cm di atas lututnya. Namun meski telah diamputasi masih ada revisi lagi, kemudian kembali diamputasi lagi 5 cm pada Juni 2016.

“Jujur saja hancur. Karena semuLa saya banyak aktivitas kerja, kuliah, terus waktu senggang untuk basket dan latihan taekwondo,” kenangnya.

Tak berhenti di situ, semenjak Oktober 2017, Andhika mengaku batuk-batuk. Namun batuknya tak kunjung sembuh. saat diperiksa, disangka asam lambung, tapi tak sembuh. Kemudian, dilakukan rongent ditemukan adanya benjolan di paru-paru sebelah kanan. Ia sempat berobat ke RS Paru di Salatiga, namun di sana tidak mampu dan disarankan untuk berobat di RSUP dr Kariadi.

“Hasil rongent, terus dilakukan CT scan biar mengetahui, bilangnya tumor. Tapi, apakah tumor dari kaki atau tumor baru,” ujarnya.

Nur Aliyah mengaku, sudah tidak memiliki biaya lagi untuk berobat Andhika.

“Kami sudah nggak punya biaya. Sekarang kami mencari pengobatan alternatif,” ujarnya.

Rekan-rekan Andhika saat berada di SMAN 1 Tuntang, Kabupaten Semarang, membuka donasi untuk biaya pengobatan Andhika. Pembukaan donasi melalui akun kitabisa.com, diinisiasi Muhammad Irfan Cahyo Putro dan Miftahul Umayah.

Irfan mengaku, mengetahui jika Andhika sakit dari teman-teman alumni di SMAN 1 Tuntang. Kemudian, telah berupaya menghubungi rekan-rekannya berupaya meringankan beban penderitaan bagi Andhika.

“Kami bisa kumpul dengan teman-teman dua minggu lalu. Terus, kami menulis di web kitabisa.com. Untuk donasi yang telah terkumpul baru sekitar 4 persen atau sebesar Rp 2 juta dari target Rp50 juta,” ujar Irfan.

Muhamad Irfan Cahyo Putro alumni UNDIP 2012, bersama Miftahul Umayah alumni UNY tersebut, memberanikan diri membuka donasi untuk meringankan beban penderitaan Andhika.

“Saya mempunyai sahabat dari SMA, Andhika Al Afghani namanya, biasa dipanggil Dika. Saat ini Dika terbaring sakit di rumahnya Gading Rt 01/02, Kecamatan Tuntang, Kab Semarang karena KANKER TULANG yang dideritanya di lutut sejak awal 2016. Dika sudah berjuang melawan kanker tulang dan harus kehilangan kaki sebelah kiri pada bulan Maret 2016 di RS Ortopedi Solo. Pada bulan Juni 2016 kaki kirinya harus dipotong untuk yang kedua kalinya sepanjang 5 cm karena kanker yang ada di kakinya tumbuh lagi dan kembali melakukan prosedur chemotherapi sebanyak empat kali,” demikian tulis Irfan dalam kitabisa.com.

Andhika pun, masih berharap bisa kuliah kembali. Ia bahkan telah menghubungi dosennya di Untag 1945 Samarinda untuk mengurus transfer kuliah di Untag Semarang.

“Saya disarankan untuk menanyakan dulu persyaratan di sini. Kemudian, nanti dari sana akan mengirimkan persyaratan tersebut,” ujar Andhika yang kini sedang cuti kuliah.

Andhika pun mengaku, sekarang ini jika tidur bagian dada sebelah kanan serasa ditusuk, selain itu punggungnya juga merasakan kesakitan.

“Rasanya seperti ditusuk, terus punggung belakang juga merasakan sakit,” katanya.
(sip/sip)

 

sumber : detik